Thursday, November 24, 2016

Unpardonnable Blundering

Unpardonable Blundering

There was a picture of a beautiful necklace that won an international award at Milan, (J.P. March 29, 1986), but I’d vote for the lovely wearer. 

Seeing her dazzling eyes would be much more fascinating than a world-awarded necklace, the glittering fire in the biggest diamonds, the most precious stones and fire-works, as the radiant sun is to an electric bulb.

The jury should be fired for unpardonable blundering.

The Jakarta Post April 8, 1986


This is my book. You can read it.

Kapan Membunuh Orang Dibenarkan?

Kapan Membunuh Orang Dibenarkan?
Kapan membunuh orang dibenarkan, tidak menjadi perbuatan kriminal?
Kecuali manusia menjadi tidak waras.
Dengan dalih perang, bukan sekedar membunuh satu tapi banyak orang, sepuas anda, sebisa anda selama perang berlangsung dan anda bahkan diangkat menjadi pahlawan.


This is my book. You can read it.

Wednesday, November 23, 2016

Doa Sang Ibu

Doa Sang Ibu
Perang sering membawa kesewenangan, kekejaman, penderitaan dan duka. Perang menanam kebencian, permusuhan dan cenderung menumpulkan peri rasa orang-orang yang terlibat.
Saya terkenang kata-kata seorang ibu A.S. yang menolak perang teluk: 
“Aku tak ingin kehilangan putraku. Aku juga tak ingin ia dididik, diajari, agar dibenarkan membunuh, menembaki putra-putra kesayangan sesama ibu disana.”
Doa, jeritan hati ibu ini, yang sekiranya bisa meluluhkan batu, tidak berhasil menggugah hati Batara Kreshna dan para pemimpin dunia untuk menghindari perang “Bharata Yuda.”
Dan saya melamun. Adakah seorang isteri yang ingin kehilangan suaminya; seorang kekasih, kehilangan kekasihnya? Meski ayahnya disanjung, dihormati sebagai pahlawan, adakah seorang anak yang bisa merasa bangga dan bahagia jika tahu bahwa ayahnya menembaki ayah-ayah tercinta sesama anak dan membawa penderitaan dan duka pada mereka? Tidak ada gadis yang bahagia jika kekasihnya merenggut nyawa kekasih sesama gadis.  
Apa lagi adakah seorang yang ingin kehilangan nyawanya dalam tugas militer yang  mewajibkan, memaksanya ikut perang?
Tetapi tidak semua tentara pendudukan Jepang semasa dulu di Indonesia, berlaku buruk. 
Suatu malam, saya dengan adik-adik yang masih kanak-kanak, duduk-duduk, bergurau, berceloteh, bermain santai di kebun. Tak disangka-sangka, seorang Jepang berpakaian sipil dengan sopan minta permisi ikut nimrung dan ngobrol. 
Melihat kami, ia terkenang dan rindu akan anak-anak dan isteri sendiri di Jepang.   Bukankah ia pun salah satu korban perang karena dipaksa harus berpisah dari keluarganya? 
Dan berapa banyak lagi perang memisah, “merobek” orang dari kekasihnya yang hanya membawa rasa sedih dan kecemasan? Entah berapa lagi diantaranya yang, bagai burung, tak akan pernah kembali lagi ke sarangnya.
Dimuat Jayakarta, 31 Juli 1992

Flowers Sing And Praise Without Words


Lovely Weeds 5.2



Flowers 

Sing, Praise Without Sounds



This is my book. You can read it.

Pedicab Driver





Being a pedicab driver is as honorable as being a pilot, although he only pedals up and down the roads and doesn’t roam the skies as a pilot does. Besides, he keeps himself strong and healthy with daily exercise, is his own master and in a way a little entrepreneur and king.


This is my book. You can read it.

Konser Cuma-Cuma

Konser Cuma-Cuma
Di antara keramaian dan kebisingan kendaraan yang lewat, di jalur hijau yang ada di tengah Jl. Majapahit pada waktu fajar, pernah ada pagelaran konser beratus-ratus cengkerik secara cuma-cuma.
Pagelarannya terasa segar bagai angin sejuk. Menarik, tak kurang dari pagelaran musik klasik. Ditata dengan tata panggung Taman Monas, Taman Istana dan matahari terbit, panggung mana terlihat melalui gapura sepasang pohn Bonsai raksasa, lengkap dengan burung-burung yang bertengger atau bermain antara dahan-dahannya, tak kurang artistik.
 Maret 1987

This is my book. You can read it.



Bagai Harumnya Mawar

   Bagai Harumnya Mawar
Hanya mulut yang mengeluarkan kata-kata, pikiran, rencana, … busuk, berbau busuk.
Jika apa yang keluar dari hati yang bersih, agung dan luhur, mulutnya harum bagaikan harumnya mawar.
Agustus 1987


This is my book. You can read it.