Tuesday, April 25, 2017

Time



Time , the Great Eraser, healing all inner wounds.


  • This is my book:

Monday, April 24, 2017

Hadiah Ulang Tahun



Kalau inget orang-orang Jepang setiap tahun, sebagai rasa syukur kepada Tuhan, naik gunung Fuji, - bahkan masih ada orang Jepang diatas 100 tahun berhasil mendaki gunung itu, entah dalam 3 atai 4 hari - ik mempunyai rencana lain.

Waktu umur sekitar 60 tahun ik berhasil menaklukan marathon.

Pikir-pikir, mau menaklukkan 70 km kalau 70 tahun, 80 km kalau 80 tahun, juga sebagai rasa syukur pada Tuhan, tapi itu bohong, sebenarnya sih, sebagai tantangan, rasa bangga, sebagai hadiah ulang tahun istimewa kalau bisa menaklukkannya.

Eh, sampai 70 tahun, ik ganti lari 70 km karena agak berat mengingat jarak Jakarta - Rumpin – Leuwiliang, dalam percobaan, berangkat jam 2 pagi, baru sampai jam 1 siang.

Jadi lebih baik ganti dengan naik sepeda 140 km. Berangkat jam 6 pagi, pulang jam 6 sore jarak Jakarta Leuwiliang pp sambil berpiknik di gunung.

Waktu sampai 80 tahun, jangan pikir bisa lari marathon 80 Km atau naik sepeda 160 km sekaligus, kecuali mungkin kalau dalam 4 hari tapi engga ada orang yang mau dampingin dan engga ada orang gantiin ik kasih makan anjing dan nyiram kebon.

Tak pernah terpikir, terbayang, kalau ik atau orang muda yang manapun, kita semua di kemudian hari akan seperti itu.

Sekarang jalan dekat aja menjadi berat karena sakit ik punya kaki, atau terlalu berat kalau naik sepeda jauh.

Pikir-pikir mau beli sepeda dipasangin motor aja, atau sepeda roda tiga bermotor, sekaligus bisa mengajak pacar, kalau tidak, beli golf car, cuman sayangnya tidak boleh dipake di jalan raya, atau beli sepeda lipat, cuman berat, sulit dibawa, nengteng, kalau dilipat.  

Tapi nanti, lihat aja, entah umur seratus tahun, kalau ik punya kaki terlalu sakit, tidak bisa jalan jauh lagi, tidak bisa naik sepeda jauh lagi, pikir-pikir ik mau naik kuda, maksudnya naik kursi roda.

Kalau perlu dipasangin motor kalau mau bertamasya, berpetualang jauh.

Begitu ik e mail sama anak-anak. Maksudnya untuk dibeliin. Ha. Ha.

  • This is my book:

 

Saturday, April 22, 2017

Kalau Hati Sedang Resah



Baru saya baca habis sebuah novel yang beruntung meraih hadiah Pulitzer. Tulisan itu disanjung para kritikus surat kabar, diangkat menjadi film utama disutradarai orang top, entah diterjemahkan ke berapa bahasa asing.

Sementara tulisan-tulisan saya belum lagi diterima penerbit. Tidak “tuli”, juga tidak “buta” mendengar atau membaca pemberitaan kehebatan orang, cenderung menyebabkan hati menjadi resah, diri serasa kecil, bagai “Sang Itik Yang Buruk Rupa” dalam dongeng Andersen. 

Sayup-sayup teringat kata-kata pak Arif.

Kelebihan apa yang dapat saya banggakan di atas orang lain? Kalaupun ada kelebihan, itu bukan berkat kehebatan, kebisaan saya, melainkan apa yang dianugrahi Sang Pencipta. Mungkin kelebihan itu dalam bentuk bakat, kepekaan, naluri pada keindahan, atau bisa juga dalam bentuk kesabaran, ketekunan, kerajinan, disiplin, …

Dan kalau ada orang yang melebihi, lebih beruntung dari saya, mengapa mesti iri? Bukankah keunggulan itu Tuhan juga yang menganugrahi-nya?

Kalaupun saya dianggap orang baik-baik, apanya yang perlu dipuji? Mungkin kadar minat, atau “dahaga” saya saja yang dibuatNya lebih kecil, sehingga tidak terlalu “haus” terhadap uang, kedudukan, atau tidak terlalu “tergiur” terhadap “buah-buah” terlarang. Itupun bukan saya punya bisa.

Walau dilahirkan “bugil” tanpa anggauta, tanpa suara, Sang Cacing tentu bersyukur dan bahagia. Sibuk dalam kesenangan, menunaikan kodratnya, mengolah, menggali tanah, ia tak iri pada Sang Kupu-kupu yang bersayap indah, berwarna-warni, maupun pada Sang Kenari yang bersuara dengan kicauan merdu. Yang satu rajin dalam menunaikan kodratnya menghisap madu dan yang lainnya giat memenuhi panggilan hidupnya dengan berkicau.

Begitu pesan Pak Arif, dan sayapun menjadi damai dan senang.

Pelita 12 Nopember 1996


  • This is my book: